Yel-Yel Hibur Penonton kala Pertandingan Berat Sebelah

06 Maret 2009



Jangan sepelekan peran tim yel-yel di Honda DBL. Mereka tak hanya bertugas menyemangati pemain yang sedang bertanding di lapangan. Tetapi, mereka juga punya andil ”membakar” suporter untuk terus bersorak, menyuguhkan hiburan, serta menjadikan pertandingan makin semarak.

Itulah yang kemarin tampak di Hall A Sport Center Rumbai Pekanbaru, tempat berlangsungnya kompetisi Honda DBL Riau Pos 2009 yang sudah memasuki babak Fantastic Four. Ketika itu, yang sedang bertanding di lapangan adalah tim putri SMA Kalam Kudus Pekanbaru berhadapan dengan SMA Santa Maria Pekanbaru.

Kedua tim sama-sama ngotot bertarung. Sama-sama menyuguhkan penampilan terbaiknya. Tetapi, keunggulan skill yang dimiliki pemain-pemain SMA Santa Maria Pekanbaru membuat timnya leading jauh, 37-2 di akhir kuarter kedua.

Padahal, ketika mengawali pertandingan, barisan pendukung setia SMA Santa Maria Pekanbaru belum tampak mengisi tribun. Praktis, dukungan buat mereka hanya berasal dari angota tim yel-yel yang tak lelah men-support dari pinggir lapangan.

Rupanya, rombongan suporter SMA Santa Maria terjebak macet, sehingga baru sampai di stadion ketika pertandingan memasuki kuarter ketiga. Mereka dipimpin oleh Dewit, pelatih tim putra SMA Santa Maria. Karena tim putra sekolahnya sudah kalah, mereka mengoptimalkan dukungan untuk tim putri. Termasuk, sang pelatih yang alih fungsi jadi koordinator suporter.

Di bawah komandonya, ratusan suporter itu terus bersorak. ”Hitung-hitung, pemanasan untuk final. Besok kami akan datang membawa drum. Mungkin juga spanduk dukungan dan lain-lain. Intinya kami ingin memberikan dukungan semeriah mungkin,” kata Dewit yang sudah yakin timnya bakal melenggang ke final meski saat itu pertandingan belum berakhir.

Memang, saat itu tim putri SMA Santa Maria Pekanbaru sudah unggul jauh. Pertandingan pun menjadi berat sebelah dan tak ada lagi kejar mengejar skor yang seru. Tapi, suasana Hall A Sport Center Rumbai bukannya jadi lesu. Meski pertandingan bisa dibilang timpang, penonton tetap mendapatkan suguhan menarik. Yaitu, atraksi tim yel-yel dari pinggir lapangan.

Terlebih, di kuarter terakhir, panitia memutar lagu-lagu yang up-beat. Naluri pemandu sorak mereka pun muncul. Diawali tim yel-yel SMA Santa Maria Pekanbaru yang unjuk kebolehan menyusun piramid, tim yel-yel SMA Kalam Kudus pun tak mau kalah. Mereka ikut membentuk piramid tandingan.

”Lalu kami beralih ke gerakan breakdance, mereka (yel-yel SMA Kalam Kudus Pekanbaru, Red) juga buat gerakan serupa. Akhirnya, jadilah kami battle di pinggir lapangan. Seru sih. Biar penonton nggak bosan,” ungkap Widya Sartika, anggota tim yel-yel SMA Santa Maria Pekanbaru.

Aksi mereka memang langsung dapat tepukan riuh dari penonton yang memenuhi tribun. Meski pertandingan timpang, ter-cover oleh kelincahan tim yel-yel menghibur penonton.

Berkat dukungan yang luar biasa dari suporter dan tim yel-yel, tim putri SMA Santa Maria Pekanbaru berhasil mengakhiri pertandingan dengan skor 73-11. Sama dengan tim basket dan suporter, tim yel-yel SMA Santa Maria Pekanbaru juga berjanji akan tampil all out saat final. ”Pokoknya kalau panitia muterin lagu-lagu yang nge-beat lagi, kami bakal tampil lebih gila dari hari ini,” janji Widya.

Champion Bandung Konvoi, Dimintai Foto dan Tanda Tangan

01 Maret 2009



Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada merasakan sebuah kemenangan. Setelah lelah dengan perjalanan panjang perjuangan tentunya akan menyenangkan jika perjalanan ditutup dengan prestasi gemilang.

Seperti yang dirasakan oleh Champion Honda DBL West Java 2009, tim putra SMAN 9 Bandung dan tim putri SMAN 1 Bandung. Kemarin (23/2), kedua tim merasakan senangnya menjadi juara. Mereka diarak keliling jalanan Kota Kembang sambil memamerkan piala dan kostum Champion oleh sponsor utama acara, Honda.

Rombongan itu start dari SMAN 1 Bandung sekitar pukul 10 pagi dengan menumpang dua mobil jip beratap terbuka. Kedua mobil mereka diikuti rombongan sekitar 40 orang pengendara motor Honda.

Sepanjang perjalanan, kedua tim, saking bersemangatnya, tak pernah berhenti menyanyikan yel-yel sekolah masing-masing. Mereka juga meneriakkan kemenangan mereka kepada orang-orang yang lewat. ”Kami nggak pernah berhenti lompat-lompat saking senangnya. Supaya orang-orang pada tahu, kami juga nggak henti-hentinya teriak ke tiap orang yang ngeliatin, ’Kami menang, Pak, kami juara DBL!’” cerita Shintya Warani, pemain SMAN 1 Bandung, yang kemarin ikut serta dalam konvoi.

Setiap orang yang kebetulan berpapasan dengan rombongan itu mau tak mau pasti menoleh. Beberapa pengendara bahkan ada yang sudah mengenali wajah-wajah tim champion. Bahkan ketika lagi berhenti di lampu merah, ada seorang bapak yang mengaku fans berat DBL, menyempatkan diri untuk meminta foto mereka dari atas mobil.

”Bapak itu pertamanya cuma nanya, ada apa ini Mbak? Terus kita jawab, kalau kita ini SMAN 1 Bandung, Champion DBL! Bapak itu langsung ngeluarin kamera handphone-nya. Tapi sayang, begitu kita udah gaya, lampunya keburu hijau. Nggak jadi deh, ha ha. Tapi kita sudah berpesan ke bapaknya supaya nonton kita di Global TV,” ujar Shintya lagi.

Jadi pemenang even basket pelajar terbesar, membuat Chintya dkk merasakan enaknya jadi artis dadakan. Nggak hanya dimintai foto, beberapa pengemudi angkot bahkan meminta tanda tangan mereka. Sayang, mobil harus keburu dijalankan, kalau tidak ingin membuat jalanan macet.

Awalnya, champion putra sempat kalah heboh dari tim putri. Jumlah mereka memang lebih sedikit. Hanya lima orang pemain yang ikut konvoi. Namun, virus heboh itu menular. Anak-anak SMAN 9 terprovokasi, dan akhirnya ikut menyanyikan yel-yel sekolah mereka sepanjang perjalanan.

”Kami seneng banget. Tapi kami malah jadi speechless waktu diarak, nggak bisa teriak-teriak lepas kaya SMANSA. Mungkin karena nggak bakat jadi artis, kami lebih banyak diam, he..he. Tapi setelah diprovokasi, akhirnya kami mulai bisa menyanyikan yel-yel sekolah,” ujar Argian Rizki Taufik, kapten tim putra SMAN 9 Bandung.

Menjadi juara Honda DBL West Java 2009 memang jadi impian semua tim basket, namun kemenangan kali ini sedikit menyisakan kesedihan bagi Shintya dkk. Karena ini merupakan DBL terakhir mereka. Tahun depan, karena sudah kelas XII, mereka tidak diperbolehkan mengikuti even ini.

”Seneng tapi sedih. Tahun depan sudah nggak boleh ikut lagi. Aku sudah bilang sama panitianya supaya bolehin ikut lagi. Tapi meskipun udah nggak boleh ikut lagi, aku pasti masih ngikutin DBL terus. Pasti. Paling nggak, jadi suporter ngasih dukungan ke adik-adikku yang berlaga di DBL. Makanya DBL harus ada terus!” ujar Shintya.

Ketika Champion Bandung sudah merayakan kemenangan, hari ini (24/2) tim yang akan berlaga di Pekanbaru dijadwalkan mengikuti technical meeting. Honda DBL Riau Pos 2009 sendiri akan mulai digelar pada 27 Februari mendatang .

Menang Mental, Lima Pemain SMAN 1 Airmadidi Menangis Haru

Antusiasme pencinta basket di Manado memang luar biasa. Memasuki babak yang makin menentukan, suporter tim-tim basket peserta Honda DBL Manado Post 2009 makin heboh memberikan dukungan untuk tim-tim kebanggaannya. Kemarin (25/2), memasuki babak Big Eight, lebih dari 3000 tiket terjual.

Kejutan-kejutan kecil juga terjadi di GOR Wolter Mongisidi, kemarin. Salah satunya adalah kemenangan tim putra SMAN 1 Airmadidi. Yup, tim ini berhasil membuat SMA Don Bosco Manado mengakui keunggulannya dengan skor 35-28.

Tahun lalu baik SMAN 1 Airmadidi maupun SMA Don Bosco sama-sama terhenti di babak penyisihan. Kekuatan cukup berimbang, tapi suporter SMA Don Bosco yang membeludak bisa jadi semangat lebih untuk tim tersebut.

"Awalnya kami takut bakal kalah mental seperti tahun lalu saat menghadapi SMAN 1 Manado,” ujar Christ Kevin Emor, kapten SMAN 1 Airmadidi. Maklum saja, pendukung SMAN 1 Airmadidi hanya ada beberapa baris, sementara suporter SMA Don Bosco memenuhi sekitar setengah tribun GOR Wolter Mongisidi, Manado.

Saat memasuki lapangan, degup jantung Christ terasa makin kencang. Dejavu hinggap, kejadian tahun lalu seolah terulang. Hiruk pikuk suporter meneriaki tim kebanggaannya. Bukan untuk timnya, melainkan tim lawan. Tapi, dengan sigap, Christ menghalau perasaan down. Dia meneguhkan hati, latihan fisik dan mental selama satu tahun jangan sampai sia-sia.

Yup, SMAN 1 Airmadidi berlatih keras setelah merasakan pahitnya kekalahan tahun lalu. Selama satu tahun mereka latihan fisik sangat keras. Bayangkan saja, setiap har mereka lari mengelilingi jalanan kota Airmadidi. Kalau hari ini berlari 10 km, keesokan harinya mereka lari 4 km. Begitu seterusnya, hingga pertandingan yang dinanti tiba. ”Capek sekali rasanya. Tapi, kalau ingat gengsi pertandingan DBL, semangat kami makin berkobar,” seru Christ.
Untuk mengasah mental, Christ membagikan tip pada teman-teman satu tim yang baru pertama kali ikut DBL. ”Kuncinya fokus pada pertandingan. Karena sekolah jauh, maka kita harus menang dulu baru bawa suporter banyak. Bukan sebaliknya, menang karena suporter,” ungkapnya. Jadi, selama bertanding, tim SMAN 1 Airmadidi memilih tutup kuping untuk sementara. Berusaha tidak mendengar seruan riuh suporter tim lawan.

Kuarter pertama dan kedua laga SMAN 1 Airmadidi melawan SMA Don Bosco kemarin diwarnai kejar mengejar angka. Memasuki kuarter ketiga baru tampak hasil latihan Christ dkk berlari puluhan kilometer. Saat lawan terlihat mulai kelelahan, Christ dkk masih full-energy. Perolehan poin SMAN 1 Airmadidi makin menjauh. ”Saat itulah kami optimis menang,” seru Christ. Dan benar, mereka berhasil menutup pertandingan dengan skor 35-28, melaju ke babak Fantastic Four Honda DBL Manado Post 2009.

Begitu pertandingan usai, tangis pecah di kedua kubu. Suporter SMA Don Bosco terisak meratapi kekalahan timnya. Sedangkan pemain SMAN 1 Airmadidi menangis karena haru. ”Saking terharunya bisa menang, saya tak sadar menangis. Latihan keras kami selama ini tak sia-sia,” ujar Christ, yang berposisi sebagai guard.

Christ tak menangis sendirian, empat orang kawannya juga ikut menangis karena kemenangan manis ini. Sambil menangis, mereka bertekad bakal terus berjuang sampai jadi champion. ”Kalau sudah babak penting begini, saya percaya teman-teman suporter bakal lebih banyak yang datang. Dan tentunya kami harus latihan lebih keras agar mereka tak kecewa,” tekadnya. Sip, lanjutkan perjuanganmu!

Kaget, DBL Bisa Heboh di Pekanbaru



Popularitas Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009, tampaknya juga melonjak di Pekanbaru, Riau. Tahun lalu, total penonton di kota tersebut termasuk paling rendah. Tapi, melihat besarnya jumlah penonton dalam pembukaan kemarin, tanda-tandanya jumlah penonton tahun ini bisa berlipat ganda.

Kemarin, hampir 3.000 penonton berbondong-bondong datang ke Hall A Rumbai, tempat berlangsungnya pertandingan. Tahun lalu, dalam tujuh hari kompetisi, jumlah penonton tak sampai 8.000 orang. Sepertiga lebih jumlah itu sudah tercapai hanya dalam satu hari kemarin.

Sebelum dimulainya Honda DBL Riau Pos 2009 ini, memang sempat banyak pihak yang meragukan kehebohan even ini. Salah satu penyebab utama: Jauhnya Hall A Rumbai dari pusat kota. Bukan hanya itu, Hall A merupakan salah satu gedung basket terbesar di Indonesia, dengan kapasitas mencapai 10 ribu penonton. Sangat sulit untuk membuat suasana di dalamnya heboh.
“Tapi kami tetap ingin konsisten menyelenggarakan even ini di Rumbai. Sebab, hanya gedung ini yang memenuhi standar penyelenggaraan DBL di Pekanbaru. Kami tidak mungkin pindah ke lapangan outdoor,” kata Masany Audri, general manager DBL Indonesia.

Makanya, ketika pembukaan kemarin heboh, semua pihak jadi terkejut. Mulai dari DBL, Riau Pos sebagai panitia lokal, para partner pendukung, juga para wasit dan penonton sendiri.

“Semula saya ragu penonton tak akan banyak karena Rumbai ada di pinggiran kota. Tapi saya terkejut penontonnya luar biasa. Ini even terbesar yang pernah ada di Riau,” kata Yafri Yahya, wasit senior Pengprov Perbasi Riau.

Andai diselenggarakan di tengah kota, Yafri yakin penonton di Riau bisa mengalahkan kota-kota lain Honda DBL 2009. “DBL ini ajang untuk mematangkan wasit dan melahirkan bibit basket di Riau. Gairah basket di Riau kini luar biasa,” tandasnya.

“Salut untuk DBL. Coba kalau diselenggarakan di tengah kota, pasti even ini seperti gula dikerubungi semut,” timpal Saat, 58, seorang penonton umum.

Tentu saja, even ini tidak bisa langsung sukses begitu saja. Meski sudah dikenal publik Pekanbaru setelah even perdana tahun lalu, masih ada upaya-upaya sosialisasi lanjutan.
Sebelum Honda DBL Riau Pos dimulai, sudah ada kompetisi “pemanasan” di lima wilayah di Riau. Road To DBL 2009, sebutan even yang diselenggarakan Oktober 2008 hingga Januari 2009 itu, merupakan inisiatif dari PT Capella Dinamik Nusantara, main dealer Honda di Riau, dan Riau Pos.

“Saya sangat puas. Jauh lebih meriah dari tahun lalu. Mulai dari antusias peserta sampai penonton peningkatannya signifikan,” kata Johan, pimpinan Capella.

Tahun lalu, 33 tim mengikuti Honda DBL di Pekanbaru. Tahun ini, jumlah peserta melonjak jadi 44 tim. Pada hari pertama kemarin, empat pertandingan diselenggarakan. Dibuka dengan duel tim putri SMAN 11 Pekanbaru, juara bertahan, melawan SMAN 5 Pekanbaru. Tim SMAN 11 masih melaju, menang telak 28-1.

Dinda Fristy, mantan pemain SMAN 11 tahun lalu yang sekarang jadi suporter, mengaku sangat senang dengan laga pertama ini. “Pembukaan wow keren. Saya kaget adik-adik tadi sempat nervous. Tapi akhirnya menang juga. Thank’s DBL. Semoga di hari-hari berikutnya tidak kalah meriah dengan pembukaan,” ucap Dinda.Honda DBL Riau Pos ini berlangsung hingga 7 Maret mendatang.

Sambil menunggu kompetisi di Pekanbaru, pemecahan rekor penonton bisa terjadi hari ini di final Manado. Hanya dengan 1.700 penonton, maka total penonton Honda DBL Manado Post 2009 bisa menyalip Honda DBL Sumatera Ekspres 2009 di Palembang, yang berakhir 22 Februari lalu.

Gedung Terburuk, Suporter Terbanyak



Salut buat penggemar basket di Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara. Meski mungkin memiliki gedung terburuk di Indonesia, jumlah penonton mampu memecahkan rekor terbanyak.

Kemarin, hampir 3.000 penonton bergantian memadati Hall B W.R. Mongisidi KONI Manado, menyaksikan final Honda DetEksi Basketball League (DBL) Manado Post 2009. Yang dimaksud padat itu benar-benar padat, mengisi semua celah tangga dan pintu masuk di dalam gedung!

Berarti, selama delapan hari pertandingan sejak 20 Februari lalu, total penonton menembus 21 ribu orang. Sedikit lebih banyak dari total penonton Honda DBL 2009 di Palembang, yang mencapai 20.309 orang.

"Sejak DBL mengembangkan diri ke berbagai wilayah di Indonesia pada 2008 lalu, jumlah di Manado ini jadi yang terbanyak. Hanya Surabaya, tempat DBL berpusat, yang memiliki penonton lebih besar,” kata Azrul Ananda, commissioner DBL.

Azrul menjelaskan, tahun lalu, lebih dari 100 ribu orang menyaksikan Honda DBL 2008 di Jawa Timur, dalam 28 hari pertandingan. Kemarin, ribuan penonton sudah berbondong-bondong datang ke gedung pertandingan. Kebanyakan suporter SMA Eben Haezar Manado, yang meloloskan tim putra dan putrinya ke final. Satu setengah jam sebelum tipoff, para pendukung “Benzar” sudah memenuhi salah satu sisi tribun Hall B W.R. Mongisidi.

Karena kapasitas gedung tak sampai 1.500 orang, maka banyak sekali penonton yang harus rela menunggu di luar gedung. Bila suporter Benzar “menetap” di dalam gedung, maka dua lawan mereka harus bergantian mengisi sisi tribun yang lain. Pertama pendukung tim putri SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, lalu pendukung tim putra SMA Katolik Theodorus Kotamobagu.

Ratusan –mungkin sampai 500 orang-- penonton datang berombongan dari Kotamobagu. Dari sekolah saja 150 orang. Padahal, jaraknya bisa lebih dari tiga jam perjalanan darat dari Manado!

“Kami berangkat dari Kotamobagu pukul 8 pagi tadi. Dari anak SMP dan SMA Yayasan Katolik Theodorus ada 150 orang, dapat izin khusus untuk jadi suporter,” ungkap Suster Dionisia, kepala sekolah SMA Katolik Theodorus Kotamobagu. “Sejak tahun lalu, tim dan guru sudah mengumpulkan dana untuk mengirim tim ke Manado. Basket memang sudah jadi agenda rutin sekolah kami,” tambahnya.

Upaya Kotamobagu ini tidak sia-sia. Tim putranya menjadi juara, menang 63 - 50. Tapi ribuan penonton Eben Haezar juga tidak kecewa. Tim putrinya mampu mempertahankan gelar dan menang 21-12.

Sebagai hadiah tambahan, pemain putra Eben Haezar, Marc Shaloom Laoh, terpilih sebagai Honda Most Valuable Player (MVP). Pendukung mereka juga mendapat penghargaan bergengsi, Supporter Award.

Menurut Elvi Sugiarto, kepala sekolah Eben Haezar, hasil ini merupakan buah persiapan panjang. Dia mengaku sudah menyiapkan tim ini sejak Honda DBL tahun lalu berakhir.

“Sejak tahun lalu, kami rutin menggelar seleksi untuk persiapan DBL. Khusus suporter pun kami sudah menyiapkan sejak tahun lalu. Harapan kami, ajang ini juga mengangkat gengsi sekolah kami,” ucapnya. Dengan hebohnya Honda DBL Manado Post 2009 ini, seharusnya masa depan basket di Manado bisa tumbuh pesat. Tapi, mengenai ini, panitia menahan ekspektasi.

"Antusiasme peserta dan penonton memang hebat, tapi tidak ditunjang dengan gedung yang memadai. Tidak ada gedung lain yang lebih besar di Manado. Kalau terus pakai gedung ini, maka jumlah penonton sudah maksimal. Apalagi kondisi lapangan dan fasilitas penunjangnya juga di bawah standar,” papar Azrul. “Masalahnya, tidak ada gedung lain di Manado yang layak,” tambahnya.

Suhendro Boroma, wakil direktur dan pemimpin redaksi Manado Post, menceritakan bahwa pihaknya harus merenovasi Hall B W.R. Mongisidi ini setiap menjelang Honda DBL. Tahun lalu mengecat gedung, tahun ini memperbaiki lapangan kayu dan atap yang jebol kena badai. “Sudah ada lima gubernur sejak gedung ini dibangun,” tukasnya.

Andai Manado punya gedung lebih baik, lanjut Azrul, maka kota ini berpeluang menjadi kota utama basket di Pulau Sulawesi. “Penonton di sini juga sangat menyenangkan. Tertib, tak pernah lelah bersorak dan menyanyi. Sayang, mereka harus melakukan itu di gedung yang mungkin terburuk di Indonesia,” pungkasnya.


Honda DBL Manado Post 2009
20-28 Februari 2009

Champion:
Putra – SMA Theodorus Kotamobagu
Putri – SMA Eben Haezar Manado

League DBL First Team
(Ke Surabaya berlatih dengan NBA)

Putra
Marsellino Hertowi (SMAN 1 Manado)
Andy Wijaya (SMA Theodorus Kotamobagu)
Marc Shaloom Laoh (SMA Eben Haezar Manado)
Robert Purnomo A. (SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon)
Reynaldi C.H. Tarroreh (SMAN 1 Manado)

Coach: Octavianus Sanda (SMAN 2 Bitung)

Putri
Jessica Jeannete Lenzun (SMAN 1 Manado)
Indri Lumenpouw (SMA Eben Haezar Manado)
Chelya Mandak (SMA Eben Haezar Manado)
Astrid Pakaya (SMAN 1 Manado)
Olivia Agatha M. (SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon)

Coach: Ronald L.Y. Lengkong (SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon)

Honda Most Valuable Player
Putra – Marc Shaloom Laoh (SMA Eben Haezar Manado)
Putri – Astrid Pakaya (SMAN 1 Manado)

Penonton di Palembang terbanyak !

24 Februari 2009



Kota mana yang basketnya paling heboh di Indonesia? Usai Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009 di Sumatera Selatan kemarin, Palembang menunjukkan diri sebagai kandidatnya. Dari enam kota yang sudah dikunjungi kompetisi terbesar di Indonesia itu, penonton di GOR Sriwijaya tercatat sebagai yang terbanyak.

Lebih dari 4.500 penonton menyaksikan final Honda DBL Sumatera Ekspres 2009 di Palembang kemarin. Berarti, dalam delapan hari pertandingan sejak 14 Februari lalu, total penonton menembus angka 20 ribu.

“Dari 16 kota yang menyelenggarakan Honda DBL 2009, mungkin hanya kota asal liga ini, Surabaya, yang lebih banyak. Bisa dimaklumi, karena di Jawa Timur DBL sudah memasuki tahun keenam. Tahun lalu, total peserta mencapai 266 tim, dengan penonton lebih dari 100 ribu orang dalam 28 hari pertandingan,” jelas Azrul Ananda, commissioner DBL.

“Tapi, bagaimana pun juga, 20 ribu dalam delapan hari adalah angka spektakuler. Liga basket di level apa pun sulit mencapai angka itu,” lanjutnya.
Azrul menambahkan, dari kota-kota lain yang akan dikunjungi Honda DBL 2009, mungkin hanya Semarang, Jogjakarta, dan Pontianak yang punya peluang mengalahkan Palembang.

Jayapura, yang menjadi kota pembuka 16-23 Januari lalu, mungkin bisa mengalahkan jumlah itu bila punya peserta dan jumlah hari seperti di Palembang. Total ada 50 tim yang tampil di Palembang. Di Jayapura, ada 25 tim bertanding selama enam hari.

Azrul mengungkapkan, total penonton di sana menembus angka 17 ribu orang. Bandung, yang baru saja menyelesaikan pertandingan Sabtu lalu (21/2), punya penonton sekitar 16 ribu.

“Harus ada kombinasi minat dan kapasitas gedung yang mumpuni. Didukung kekompakan panitia DBL Indonesia, panitia lokal, serta semua partner pendukung di kota tersebut,” ujarnya.

Subki Sarnawi, general manager Sumatera Ekspres, mengaku jumlah penonton melebihi segala ekspektasi. Untuk final kemarin misalnya, pihaknya hanya mengharapkan sekitar 3.000 orang. Maklum, tiga dari empat tim finalis datang dari luar kota.

“Kami kaget dan salut, terutama penonton asal daerah yang ternyata sangat antusias mendukung timnya. Kami atas nama panitia berterima kasih kepada semua tim dan penonton atas suksesnya Honda DBL Sumeks 2009 ini,” ujarnya. Dalam final kemarin, tim putri SMAN 1 Banyuasin III mampu mempertahankan gelar, mengalahkan SMAN 1 Sekayu, 60-52.

Pada laga kedua, SMA Xaverius 3 gagal mempertahankan gelar. Kalah ketat di tangan SMAN 1 Muara Enim, 66-67. Laga kedua itu superseru. Hingga menit-menit akhir kuarter keempat, Xaverius 3 dan Muara Enim terus imbang. Sempat salip menyalip satu angka. Ketika waktu tersisa kurang dari satu menit, skor masih imbang 65-65.

Pertandingan terakhir itu benar-benar memuaskan. Usai final, para penonton berharap agar even ini terus diselenggarakan di Sumatera Selatan. “Terus terang saya pecinta basket dan selalu nonton even basket. Tapi belum pernah ada yang seheboh ini di Palembang. Tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, Honda DBL Sumeks harus diadakan lagi,” kata Hajar Dewantara, 28, penonton asal Bukit Besar, Palembang.

"Saya yakin tahun depan akan lebih heboh lagi, karena pecinta basket Palembang sudah tahu betapa hebohnya kompetisi ini,” tambah Rani Anggraini, 22, penonton asal Plaju.

Suwito, pimpinan Astra Motor Sumatera Selatan, menambahkan bahwa even ini masih punya potensi untuk tumbuh lebih besar lagi di provinsi tersebut. “Pokoknya harus lanjut. Tantangan tahun depan, membuat gedung penuh setiap hari, bukan hanya saat final. Juga harus melibatkan lebih banyak lagi peserta dari daerah,” pungkasnya


Champion

Putri – SMAN 1 Banyuasin III

Putra – SMAN 1 Muara Enim



League DBL First Team

(Bakal berlatih bersama NBA di Surabaya)

Putri
Mellysa (SMAN 1 Banyuasin III)
Desti Damayanti (SMAN 1 Sekayu)
Windu Rohima (SMAN 5 Palembang)
Siti Masitoh (SMAN 1 Sekayu)
Novi Apriyani (SMAN 1 Banyuasin III)

Coach: Rachmat Hidayat (SMAN 1 Sekayu)

Putra
Hagai Eagle (SMA Methodist 2 Palembang)
Handy Salim (SMA Xaverius 3 Palembang)
Decki Azwar (SMAN 1 Muara Enim)
M. Hakeem Hidayat (SMAN 1 Sekayu)
Rudianto (SMAN 1 Muara Enim)

Coach: M. Hakim Syarifuddin (SMA Xaverius 3 Palembang)

Honda Most Valuable Player (MVP)

Putri – Mellysa (SMAN 1 Banyuasin III)

Putra – Handy Salim (SMA Xaverius 3 Palembang)

NBA Madness Hadir di Indonesia

22 Februari 2009



Even basketball lifestyle kelas dunia, NBA Madness, bakal hadir untuk kali pertama di Indonesia. Even yang sudah rutin diselenggarakan di berbagai negara itu terwujud berkat kerja sama NBA dengan Jawa Pos, menyambut ulang tahun harian ini pada 1 Juli mendatang. Selama bulan Juni nanti, selama empat weekend, even ini akan hadir di empat mal di Surabaya.

NBA Madness presented by Jawa Pos ini akan menghadirkan pengalaman otentik NBA untuk masyarakat Indonesia, khususnya warga Surabaya dan Jawa Timur. Even ini gratis untuk segala usia, dan semua bisa menikmati berbagai permainan dan aktivitas basket yang seru dan menyenangkan.

Even ini akan hadir dalam empat weekend, antara 4 hingga 28 Juni 2009. Pembukaan diselenggarakan di Tunjungan Plaza 3 (4-7 Juni), berlanjut ke Mal Galaxy (11-14 Juni), Royal Plaza (18-21 Juni), dan Supermal Pakuwon Indah (25-28 Juni).

Selain menyuguhkan berbagai aktivitas seru, NBA juga akan menyuguhkan penampilan khusus dari liga basket paling bergengsi di dunia tersebut. Seorang bintang NBA dan satu dance team NBA akan tampil pada weekend terakhir, sedangkan satu maskot tim NBA akan hadir pada weekend pembukaan.

Siapa pemainnya, dan dari tim mana dance team serta maskot berasal akan diumumkan kemudian.

“Kami senang bisa bekerja bersama NBA untuk mendatangkan NBA Madness ke Indonesia,” kata Azrul Ananda, wakil direktur Jawa Pos. “Basket adalah salah satu olahraga paling populer di Indonesia, khususnya di Surabaya.

Para penggemar di sini akan sangat bersemangat untuk berpartisipasi di NBA Madness pertama di Indonesia,” tambahnya.

Mark Fischer, managing director NBA Asia, menyebut NBA Madness sebagai cara yang luar biasa untuk berinteraksi dengan penggemar NBA secara global. “Indonesia punya basis pemain basket yang tumbuh pesat. NBA Madness akan memberi mereka peluang untuk merasakan secara langsung pengalaman NBA untuk kali pertama,” ujarnya.

Dalam NBA Madness, bakal ada lapangan basket mini yang disiapkan di mal-mal yang akan dikunjungi. Para penggemar dari segala umur lantas bisa berpartisipasi dalam berbagai even seru. Misalnya NBA Slam Dunk Contest, NBA 2Ball, NBA 3-Point Shootout, NBA Shooting Stars, NBA Skill Challenge, dan lain-lain.

Tahun lalu, NBA Madness ini sudah diselenggarakan di berbagai negara di Asia. Yaitu di Jepang, Korea, Taiwan, Singapura, Hongkong, dan Filipina. Khusus di Filipina, even ini sudah berlangsung selama tujuh tahun.

Even Kedua Surabaya

Hadirnya NBA Madness ini bakal menjadi catatan kedua Surabaya menjadi tuan rumah even resmi NBA. Tahun lalu, pada 23-24 Agustus, Surabaya juga menjadi tuan rumah even resmi pertama NBA di Indonesia.

Ketika itu, bintang Indiana Pacers Danny Granger menghadiri final DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar yang diprakarsai Jawa Pos. Granger juga tampil dalam NBA Basketball Clinic, memberi materi latihan kepada para champion DBL dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia.

Sejak tampil di Surabaya, karir Granger terus melonjak. Bulan ini, dia terpilih masuk NBA All-Star, mengukuhkan diri sebagai salah satu superstar NBA.

“Kami bangga bisa terus menghadirkan bintang kelas dunia ke Surabaya, menunjukkan bahwa even-even dunia tidak harus selalu diselenggarakan di Jakarta,” kata Azrul Ananda, yang juga commissioner DBL. “Semoga ini bisa menjadi hadiah istimewa untuk warga Surabaya dan Jawa Timur, dan semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk ikut membuktikan diri,” tambahnya.

Berdasarkan pengalaman mengunjungi NBA Madness di Filipina, Azrul merasa yakin even ini bakal lebih heboh di Surabaya.
“Kita bisa melihat langsung, tanpa membayar, seorang pemain NBA beraksi. Kita bisa melihat langsung bagaimana penampilan atraktif sebuah dance team NBA. Kita juga bisa melihat langsung bahwa maskot NBA memang istimewa. Bukan sekadar pakai kostum lucu, dia juga punya kemampuan akrobatik,” papar Azrul.