Agustus nanti, datang satu lagi pemain NBA
04 Juli 2009
Diposting oleh Adam Syarief Thmrn di 10.19Pada pertengahan Agustus mendatang, bakal ada satu lagi bintang NBA yang datang. Dia akan tampil di Indonesia Development Camp 2009, melatih para pemain bintang liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009.
Pemain itu juga tidak datang sendirian. Bila David Lee ditemani Miami Heat Dancers, maka Agustus nanti juga akan hadir dua asisten pelatih NBA.
“Indonesia Development Camp adalah lanjutan kerja sama NBA dan DBL, setelah NBA Basketball Clinic yang dihadiri bintang Indiana Pacers, Danny Granger, pada Agustus 2008 lalu. Even ini merupakan camp basket selama beberapa hari, diikuti 160-an pemain dan puluhan pelatih Honda DBL 2009 dari 15 provinsi di Indonesia,” jelas Azrul Ananda, commissioner DBL.
Azrul mengaku belum bisa menyebutkan siapa bintang yang hadir nanti. Katanya, pengumuman akan dilakukan langsung oleh NBA dalam waktu dekat ini.
“Kami inginnya pengumuman dilakukan pada pembukaan Honda DBL 2009 seri Jawa Timur, 18 Juli nanti di DBL Arena Surabaya. Semoga itu bisa terwujud,” ucapnya.
Ada petunjuk bagi para penggemar basket Indonesia? “Kalau Danny Granger bermain di posisi small forward, lalu David Lee di posisi power forward atau center, maka pemain yang akan datang nanti bermain di posisi shooting guard,” kata Azrul.
Apakah dia lebih ngetop dari Granger atau Lee? “Yang pasti, dia masuk NBA lebih dulu. Tinggi badannya 201 cm, dia top scorer di timnya, dan musim lalu sempat mencetak 50 poin dalam satu pertandingan. Gajinya juga sudah tembus Rp 100 miliar per musim,” papar Azrul.
Honda DBL 2009 sendiri masih menyisakan penyelenggaraan di lima kota, di empat provinsi selama Juli-Agustus nanti. Di Jawa Timur, kompetisi diselenggarakan di dua wilayah: North (Surabaya) dan South (Malang). Selain itu, kompetisi ini juga akan mengunjungi Kalimantan Barat (Pontianak), Kalimantan Selatan (Banjarmasin), dan Kalimantan Timur (Samarinda).
“Sekarang kami sudah memasuki persiapan akhir untuk penyelenggaraan di kota-kota tersebut,” ucap Masany Audri, general manager DBL Indonesia, penyelenggara kompetisi yang diikuti hampir 1.000 tim dan melibatkan lebih dari 20 ribu peserta tersebut.
Hampir 3.000 Penonton Saksikan Pembukaan Honda DBL Semarang
19 Maret 2009
Diposting oleh Adam Syarief Thmrn di 15.28Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009 kemarin menggulirkan seri kesepuluh di Semarang, Jawa Tengah. Seperti di kota-kota sebelumnya, gedung pertandingan dipenuhi oleh penonton. Kemarin, hampir 3.000 orang bergantian memadati GOR Sahabat, menyaksikan empat pertandingan di hari pembukaan.
Bukan hanya suporter sekolah, juga penonton umum. Tidak sedikit yang datang dari luar kota bersama keluarga meski tidak mendukung tim mana pun.
Mesakh Tanujaya, 44, misalnya. Dia datang jauh-jauh dari Jepara menemani sang anak Kevin Stephen, 14, menyaksikan Honda DBL Radar Semarang 2009. ”Anak saya itu suka sekali mengikuti berita DBL lewat koran dan website. Tapi, dia masih belum bisa ikut karena masih SMP. Nah, pas ada DBL di Semarang, saya ajak saja datang dari Jepara. Nggak apa-apa lah nyetir dua jam,” ujarnya.
Mesakh sendiri mengaku baru kali pertama menyaksikan kompetisi basket. ”Ternyata seru sekali ya. Meriah begitu. Saya jadi ikut suka nonton basket. Nanti, kalau final saya mau datang lagi. Mumpung Sabtu, sekalian liburan,” ungkap Mesakh.
Meskipun dihadiri banyak penonton, namun terdengar pula sejumlah keluhan mengenai kompetisi ini. Yaitu mengenai adanya tiket. Tidak seperti kebanyakan kompetisi basket, Honda DBL 2009 memang selalu mewajibkan penonton untuk membayar. Nilainya berbeda-beda di setiap kota, tergantung situasi dan kemampuan.
Kemarin, salah satu yang mengeluhkan hal tersebut adalah May Ling, suporter sekaligus orang tua pemain SMA Kebon Dalem Semarang, Silvia Dewi. ”Acara ini memang terasa lebih meriah daripada acara basket lain yang pernah saya tonton. Penontonnya terlihat lebih ceria. Jadi, suasana lebih terasa ramai. Seru, gitu. Sayangnya cuma satu, harus bayar,” ungkap Ling.
Oleh panitia dari DBL Indonesia dan Radar Semarang (Jawa Pos Group), May Ling lantas diberi penjelasan tentang pentingnya tiket untuk sebuah kompetisi. Bahwa kompetisi tidak boleh bergantung seratus persen kepada sponsor kalau ingin punya masa depan yang sustainable.
Setelah diberi penjelasan, May Ling tampak lebih menerima. ”Iya juga. Yah, minimal harganya turun lah,” pintanya. Bagi DBL Indonesia, penyelenggaraan di Semarang ini termasuk yang paling hati-hati dalam hal ekspektasi. Azrul Ananda, commissioner DBL, mengaku bahwa tahun lalu liga ini disaksikan lebih dari 16 ribu penonton dalam sebelas hari pertandingan. Tapi, pihaknya tidak punya harapan lonjakan terlalu tinggi tahun ini. Bila kota-kota lain pertumbuhannya bisa seratus sampai 200 persen, Semarang mungkin di bawah itu.
“Banyak yang terus mengingatkan kami, even di Semarang bakal heboh kalau gratisan,” kata Azrul. “Tapi, kami ingin membuktikan bahwa di mana pun orang akan bersedia membayar bila kemasan kompetisinya digarap sehingga membuat mereka tertarik. Bagaimana pun, ini untuk masa depan jangka panjang DBL dan basket secara umum. Selama ini, terlalu banyak kompetisi yang tidak bisa bertahan lama karena bergantung seratus persen kepada sponsor,” tambahnya.
Azrul menjelaskan, di Jawa Tengah basket sebenarnya sudah “jadi.” Minat peserta tinggi, terbukti dengan tampilnya 64 tim di Honda DBL Radar Semarang 2009, mewakili tujuh kota dan kabupaten di provinsi tersebut.
“Fasilitas memadai. Level permainan juga sudah lebih tinggi dari kebanyakan wilayah lain. Tinggal perkembangan penonton. Sejauh ini, kami berterima kasih kepada para penonton. Ramainya pembukaan ini merupakan awal yang baik,” ucapnya.
Meski keluhan mengenai tiket bermunculan di penonton, namun banyak pula pujian mengenai kompetisi yang dimulai di Surabaya pada 2004 lalu ini. Budhi Kurniawan, 68, wakil Pengda Perbasi Jawa Tengah mengagumi konsep kompetisi yang bisa membuat pemainnya bertanding dengan kebanggaan. Sesuai dengan slogan DBL: Pride.
”Memang teknik permainan mereka masih minim. Tapi, saya melihat mereka itu luar biasa semangat. Bertanding di DBL seperti menjadi kebanggaan buat pemain. Ini sangat penting. Sebab, kalau sudah bangga bermain basket, pemain akan cinta bermain basket. Kalau sudah cinta, teknik permainan itu akan mengikuti,” ungkap Budhi, yang mengaku pernah enam kali mengikuti PON untuk cabang bola basket. “Semua kompetisi yang lain kalah sama ini,” tandasnya.
Honda DBL Radar Semarang 2009 ini berlangsung hingga 28 Maret mendatang.
Komnas Perlindungan Anak Puji Honda DBL
06 Maret 2009
Diposting oleh Adam Syarief Thmrn di 13.31
Kiprah kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009, bukan hanya terus menyedot ribuan penonton di berbagai provinsi di Indonesia. Pujian dan penghargaan juga mulai muncul dari berbagai pihak.
Salah satunya dari Komisi Nasional Perlindungan Anak. Baru-baru ini, mereka mengirimkan surat terbuka kepada Astra Honda Motor (AHM). Isinya, Komnas tersebut menyampaikan penghargaan atas keterlibatan Honda di DBL, yang ditulis sebagai salah satu even olahraga terbesar di Indonesia.
Sebab, tampilnya Honda sebagai pendukung utama ikut membuktikan bahwa dunia olahraga tidak harus bergantung pada kontribusi industri rokok. Dalam surat yang ditandatangani DR Seto Mulyadi (ketua umum) dan Arist Merdeka Sirait (sekretaris jenderal) itu, dikutip hasil penelitian Komnas Perlindungan Anak tentang dampak dari kegiatan yang disponsori industri rokok.
Hasilnya membuktikan bahwa 81 persen anak-anak pernah mengikuti kegiatan yang disponsori industri rokok. Kegiatan sponsorship rokok ini berperan dalam inisiasi merokok pada anak-anak dan menyebabkan anak yang telah berhenti merokok kembali merokok.
“Semoga langkah yang dilakukan Astra Honda akan menjadi panutan produk-produk lain untuk berkontribusi pada dunia olahraga Indonesia tanpa menghancurkan generasi bangsa pada saat yang bersamaan,” begitu petikan akhir surat tersebut.
Ketika dihubungi, Arist Merdeka Sirait menegaskan apresiasi tersebut. “Saat ini, banyak sekali kompetisi olahraga yang didukung sponsor rokok. Padahal, ini sangat kontradiktif. Kompetisi yang niatnya mendukung kesehatan kok justru didukung sponsor yang tidak sehat. Bahkan, perusahaan rokok pun mengakui bahwa produk mereka tidak sehat,” paparnya. “Oleh karena itu, kami sangat menghargai Astra Honda Motor yang bersedia menjadi sponsor DBL 2009.
Sehingga kompetisi olahraga ini tidak perlu didukung oleh sponsor rokok,” tambahnya. Arist juga mengapresiasi kebijakan DBL yang menolak sponsor rokok. “Semoga juga ini diikuti oleh kegiatan lain yang di luar olahraga. Misalnya even musik. Sebab, bila semakin banyak kegiatan disponsori oleh produk rokok, ini bisa mengancam masa depan anak,” tandasnya.
Tentu saja, surat apresiasi itu membuat bangga Astra Honda Motor dan DBL Indonesia. “Kami merasa sangat terhormat atas apresiasi yang diberikan Komnas Perlindungan Anak. Ternyata, mereka memperhatikan apa yang kami lakukan bersama DBL Indonesia. Apalagi, sudut pandangnya adalah kepedulian atas kesehatan anak,” ujar Judhy Goutama, marketing promotion and network development department head Astra Honda Motor.
Judhy menegaskan, Honda dan DBL memang punya visi yang sinkron. “DBL Indonesia dengan konsep student athlete, AHM yang selalu mendukung disiplin, sportivitas, juga kesehatan. Saya yakin, kerja sama ini akan semakin menguat di masa depan. Sebab, pihak di luar penyelenggara saja sudah memberikan apresiasi. Kami akan mendukung sikap idealis ini. Idealisme seperti ini sangat mahal dan penting ada di Indonesia,” paparnya.
Azrul Ananda, commissioner DBL, menanggapi ini dengan ucapan terima kasih. Apalagi, tidak mudah untuk memiliki kebijakan seperti liga ini. Bukan hanya menolak sponsor rokok, juga minuman beralkohol dan minuman berenergi.
“Karena itu, kami sangat berterima kasih kepada semua partner. Khususnya Astra Honda Motor, yang telah menjadi partner utama kami sejak 2008 lalu, dan bersama mengembangkan konsep Student Athlete ini dari Jawa Timur ke provinsi-provinsi lain di Indonesia,” ucap Azrul.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Relaxa, BNI, League, PT Sinar Sosro, dan Proteam yang membantu memperkuat posisi DBL sebagai liga basket pelajar terbesar di Indonesia. Tentu juga kepada Komnas Perlindungan Anak, yang ternyata memperhatikan dan mengapresiasi dukungan para partner kami. Rasanya bangga sekali,” lanjutnya.
Azrul menambahkan, kebijakan tanpa sponsor rokok ini pula yang mempermudah jalan DBL menjadi liga basket Indonesia pertama yang bekerja sama dengan NBA. Sebab, liga paling bergengsi di dunia itu juga punya kebijakan tidak menerima sponsor rokok.
Kerja sama itu terjalin sejak tahun lalu, ketika DBL menjadi penyelenggara even resmi pertama NBA di Indonesia. Pada 23-24 Agustus 2008, bintang Indiana Pacers Danny Granger datang ke Surabaya untuk bertemu dan berlatih dengan juara-juara Honda DBL 2008.
Tahun ini, ada dua even resmi NBA di Surabaya. Pada 4-28 Juni nanti, NBA Madness mengunjungi sejumlah mal di Surabaya. Lalu, pada pertengahan Agustus, NBA dan DBL menyelenggarakan Indonesia Development Camp 2009. Seorang bintang NBA dan dua asisten pelatih liga tersebut akan datang untuk melatih pemain-pemain dan pelatih-pelatih pilihan dari Honda DBL 2009.
